Minggu, 13 November 2011

Asal-Usul CINTA


C.I.N.T.A
Merasakan jatuh cinta adalah contoh kasus paling umum yang sulit untuk dijelaskan secara ilmiah. Entah sejak kapan tepatnya, perasaan cinta seolah SELALU menang bila diadu dengan hukum-hukum rasional. Namun sebenarnya peristiwa jatuh cinta bukanlah satu hal yang tumbuh dari akar emosional semata, melainkan ada faktor biologis dibaliknya.
Orang bilang CINTA itu dari mata turun ke hati. Namun ketika dihadapkan pada sisi ilmiahnya, para ilmuwan berpendapat bahwa cinta itu dari hidung lalu turun ke hati. HOW COME????
Dari hasil penelitian, perasaan cinta yang dirasakan manusia muncul karena didalam tubuh diproduksi beberapa zat yang membius otak dan efeknya bisa disamakan dengan efek narkoba. Salah satu zat ini adalah “feromon”.
Istilah feromon berasal dari bahasa yunani yaitu “phero” yang artinya pembawa dan “mone” yang berarti sensasi. Jadi feromon berarti pembawa sensasi. Senyawa feromon sendiri didefinisikan sebagai suatu substansi kimia yang berasal dari kelenjar endoktrin dan digunakan oleh makhlulk hidup untuk mengenali sesama jenis, individu lain, kelompok dan unutk membantu proses reproduksi. Senyawa feromon pada manusia terutama dihasilkan oleh kelenjar endoktrin pada etiak, telinga, hidung, mulut, kulit, dan kemalluan. Feromon aktif apabila yang bersangkutan telah akhil balig.
Feromon ini dapat mempengaruhi hormon-hormon dalam  tubh manusia termasuk otak. Contoh yang sederhana adalah bau badan. Oleh para ahli, bau badan itu diibaratkan seperti sidik jari. Jadi masing-masing orang memiliki bau badan yang khas. Dengan demikian feromon yang dihasilkan dapat menjadi identitas diri seseorang.
Feromon pada manusia merupakan sinyal kimia yang berada di udara yang tidak bisa dideteksi melalui bau=bauan tetapi hanya bisa dirasakan oleh vomeronasalorgan (VMO) di dalam indra pencium. Sinyal feromon ini diterima oleh VMO dan dijangkau oleh bagian otak bernama “hipotalamus”. Di sinilah terjadi perubahan hormon yang menghasilkan respon perilaku dan fisiologis. Sehingga menimbulkan rasa ketertarikan antara dua orang berlainan jenis dengan bekerja senagai pemicu dalam reaksi-reaksi kimia. Ketika dua orang berdekatan dan bertatapan mata maka feromon akan tercium oleh organ tubuh manusia yang paling sensitif yaitu VMO. Ogan dalam lubang hidung mempunyai kepekaan ribuan kali lebih besar daripada indera penciuman.
Dari sinilah terjadi apa yang dinamakan dengan cinta. Hmmm.....ternyata cinta itu bisa dijelaskan secara ilmiah yaa.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar